Samarinda – Banjir dan tanah longsor baru-baru ini kembali menerjang sejumlah kawasan di Samarinda. Anggota DPRD Samarinda, Ardiansyah, menilai penyebab utama bencana tersebut bukan sekadar faktor cuaca, melainkan kesalahan dalam arah pembangunan kota yang tidak mempertimbangkan kondisi lingkungan.
“Karena pembangunan belum selaras dengan kondisi alam. Kita harus menyesuaikan diri, bukan melawan alam. Air pasti mengalir dari atas ke bawah, dan pohon menyerap air lewat akar itu prinsip dasar,” jelas Ardiansyah.
Menurut Ardiansyah, tata ruang memiliki peran besar dalam menentukan apakah suatu wilayah rawan atau tahan terhadap bencana. Karena itu, ia menyoroti pentingnya peran Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dalam menyelaraskan kebijakan pembangunan dengan prinsip konservasi lingkungan.
“Itu sangat krusial, karena menyangkut arah pembangunan. Kalau tata ruangnya keliru, dampaknya bisa sangat besar,” ujarnya.
Ia juga mendorong agar perencanaan kota melibatkan kalangan akademisi dan ahli lingkungan agar solusi yang dirumuskan berbasis data dan ilmu.
Selain itu, Ardiansyah menekankan bahwa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan OPD lain perlu menyusun strategi bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri.
“Kalau masing-masing jalan sendiri, hasilnya tidak akan maksimal,” pungkasnya.
(Adv DPRD Samarinda)





