Samarinda – Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, mengingatkan bahwa stigma masyarakat menjadi salah satu penghambat utama penanganan Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) dan Tuberkulosis (TB) di Kota Tepian.
“Pasien sering merasa dikucilkan, seolah mereka tidak layak diterima. Padahal sikap seperti ini justru membuat mereka kehilangan semangat untuk sembuh,” ujarnya usai rapat Pansus IV, Selasa (28/10/2025).
Puji menjelaskan, penyakit HIV/AIDS dan TB tidak hanya soal kesehatan, tetapi juga persoalan sosial yang perlu ditangani dengan pendekatan edukatif. Karena itu, pihaknya menilai sosialisasi gaya hidup sehat dan pemahaman publik tentang penularan masih perlu diperluas hingga ke tingkat sekolah.
“Dinas Pendidikan harus ikut andil. Edukasi tentang kebersihan, gaya hidup sehat, dan pencegahan penyakit harus diberikan sejak usia dini,” tuturnya.
Ia menambahkan, pengobatan bagi pasien TB sudah difasilitasi pemerintah secara gratis, namun banyak yang berhenti di tengah jalan karena kurangnya pemahaman. “Masyarakat perlu tahu bahwa pengobatan TB bisa memakan waktu panjang, bahkan sampai dua tahun. Jadi kesadaran itu harus dibangun bersama,” tegasnya.
Puji berharap masyarakat bisa lebih terbuka agar pasien tidak lagi merasa terasing. “Kalau stigma hilang, semangat untuk sembuh akan tumbuh, dan itu bagian penting dari penanggulangan penyakit ini,” tutupnya.
Adv DPRD Samarinda





