Samarinda – Kasus kekerasan terhadap anak di Kota Samarinda masih tinggi. Berdasarkan data, sepanjang Januari hingga Agustus 2025 tercatat 117 kasus kekerasan dengan 142 korban anak di Samarinda.
“Kita melihat kejadian kekerasan terhadap anak ini cukup miris. Ini harus diusut tuntas, kenapa kasus seperti ini terus berulang,” ucap Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samrinda, Sri Puji Astuti.
Menurutnya, faktor utama yang sering memicu kekerasan berasal dari dalam keluarga, seperti tekanan ekonomi dan hubungan rumah tangga yang tidak harmonis. Karena itu, peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar harus berjalan beriringan dalam memberikan perlindungan bagi anak.
“Pendidikan karakter tidak boleh diabaikan. Dari PAUD, TK hingga SD harus mendapat perhatian serius, karena pembentukan karakter dimulai sejak dini dan keluarga adalah madrasah pertama bagi anak,” ujarnya.
Sri Puji menekankan bahwa pencegahan kekerasan harus dimulai dari penguatan akhlak dan etika anak, yang dibentuk lewat bimbingan orang tua dan lingkungan positif.
“Kalau orang tua tidak siap dengan pengetahuan tentang parenting, risiko kekerasan bisa semakin besar. Jadi edukasi keluarga itu sangat penting,” tutupnya.
Adv DPRD Samarinda
